Ceritanya ade gue yang pertama Aprisa mau beli sepatu gitu, yaa gitu gitu aja beli sepatu. Paling gue maen dorong dorongan pungung sama babeh gue, atau bengong bareng sama babeh gue sambil liatin Aprisa dan emak gue yang sibuk nyari sepatu serta ade gue yang terakhir Abila yang ngikut ngikut nyari sepatu buat dia padahal gue tau dia ga akan dibeliin sama emak gue.
Selesai nyari sepatu gue dan mereka nyari tempat makan, pas di ¾ waktu yang gue dan mereka abiskan untuk makan gue ngeliatin bungkus bungkus makanan yang gue dan mereka makan. Gue inget emak gue dulu pernah ngebawa bungkus makanan gitu ke rumah, sengaja sengaja minta plastik ke pelayannya buat ngebungkus bungkus bungkus makanan itu padahal isinya udah ga ada. Tapi sebenernya dia malu berbuat seperti itu, jadinya babeh gue deh yang disuruh emak gue buat ngebawa bungkus bungkus makanan yang udah ga ada isinya itu. Berkat kecintaannya kepada emak gue dan keberaniannya, dia ngebawa bungkus bungkus makanan yang udah ga ada isinya itu keluar tempat makan dengan selamat sentosa.
Back to main topic, dan akhirnya gue mengajak mereka membicarakan sesuatu yang mungkin bisa membuat emak gue tertarik.
Gue: Pa, biasanya kan mamah suka pengen bawa beginian ke rumah. *nunjuk bungkus makanan gue*
Babeh: Emang gitu yah mamah yah? *pura pura lupa sambil lidahnya ngorek ngorek makanan yang terselip di gigi giginya yang bolong*
Aprisa: Mah, mau ngebawa ini ke rumah ga mah?
Emak: Engga ah apaan sih! -> gue tau dia lagi muna.
Babeh: Mah, mau bawa ini ga mah?
Emak: Engga ih! -> tetap bersikeras ga mau ngaku.
Gue: Aah, padahal mau icuu. *diimut imutin*
Aprisa: Mah mau dibawa ga nih?
Emak: Udah deh jangan ngeledekin mamah gitu. -> digenit genitin, udah tua juga lo mah.
Emak: *merhatiin orange juicenya Aprisa* Kayaknya sedotan boleh tuh teh, de ambil sedotan gih.
Abila: *dengan semangat 45 ke tempat sedotan* *dan balik lagi* Teh, ngambilnya gimana?
Gue: *bengong untuk beberapa detik*
Di tempat sedotan, gue ngluarin sedotan ngasal gitu berusaha untuk mengeluarkannya sebanyak banyaknya. Sayangnya keluarnya cuma dikit, sekitar 6 bijian gitu karna gua takut dicurigain sama bapa bapa yang udah tua sampe bulu dadanya beruban (emang bulu dada bisa beruban yah?) yang lagi ngambil sambel yang tempatnya bareng sama tempat sedotan. Setelah sampai di meja, emak gue menyunggingkan senyum kemenangannya atas kecerdikkan dan jerih payah anak anaknya. Langsung aja tu sedotan dia masukin ke plastik sepatunya Aprisa takut keburu keliatan orang.
Belum sampe di situ, waktu gue lagi nyuapin kuah sop pake sendok pelastik yang gue gunakan yang emak gue perhatikan dari tadi.
Emak: Teh, itu juga boleh.
Gue: Apa mamah? *nahan ketawa*
Emak: Sendok sendok teh. *nadanya kaya yang mau maling gitu*
Gue: Hahahaha siap siap.
Makanan makanan gue udah abis, udah gitu gue elapin sendok sendok pelastik yang ada di atas meja yang sudah tidak digunakan lagi dengan tisyu bekas mulut gue. Sebenernya masih ada garpu plastik bekas spaghetti yang udah berlumuran saosnya gitu yang belum dipertindakkan.
Gue: Mah, garpunya engga?
Emak: Enggak ah ngapain juga *muka sombong*
-few seconds later-
Emak: Eh tapi kayaknya itu lucu deh.
Gue: *sigh*
Setelah semuanya udah berhasil gue bersihin dengan tisyu bekas mulut gue, emak gue yang badannya 2,5nya badan gue duduk disamping gue untuk menutupi apa yang gue lakuin tak jauh dan tak lain adalah memasukan sendok dan garpu pelastik ke plastik sepatunya Aprisaaa! Jeng jeeeng..
Akhirnya gue pulang, di jalan gue ingetin lagi tuh insiden pengambilan barang gratis ke rumah itu.
Gue: Ciee mamah yang dapet sedotan, sendok, garpuh baruuu..
Emak: Iyadoong, kita tuh harus memanfaatkan segala sesuatu yang gratis.
PS: Sesungguhnya segala sesuatu yang gratis itu memang bermanfaat!
Baca Selengkapnya...
Minggu, 03 April 2011
Freebies
Minggu, 27 Maret 2011
RESIDU
"Ssshsshs—"
Aku tak tahu itu artinya apa, tapi aku tahu itu Parseltongue. Aku tak pernah mengerti Parseltongue. Tapi aku tahu kalau itu berbahaya. Sudah terlambat untuk mencari tahu artinya apa. Karena detik berikutnya, taring ular raksasa itu menancap di leherku.
Refleks aku menjerit, berusaha mendorong kurungan sihir itu menjauh, tapi tak berhasil. Taring dingin itu menancap di leherku. Hanya sekejap, dan ular itu melepas gigitannya. Hanya sepersekian detik, dan rasa panas menjalar dari bekas lukaku. Panas dan perih. Menggigit. Seolah telah dimasukkan ular ke dalam pembuluh darahku, dan mulai melahap habis seluruh aliran darahku. Seluruh tubuhku.
Kakiku mulai mati rasa. Lututku lemas, dan aku terjatuh ke lantai.
Sudah terlambat untuk mencari penangkal bisa. Sudah terlambat untuk mencari bezoar. Apakah aku terlambat juga untuk menyelesaikan tugas terakhirku?
"Aku menyesal," desis Pangeran Kegelapan, dingin. Meninggalkanku.
Efeknya cepat terasa. Pembuluh darah di leher memang paling dekat dengan pusat syaraf. Dan aku mulai tak bisa merasakan apa-apa. Kakiku. Tak bisa bergerak. Dalam waktu sepersekian detik, aku berusaha mencari tongkatku yang terlepas tatkala aku terjatuh tadi.
Gagal.
Jangkauan penglihatanku semakin berkurang.
Rasa panik mulai menjalar, bahkan lebih cepat dari menjalarnya bisa Nagini. Merasuk ke tiap mili pembuluh darahku, masuk ke tiap senti ototku, meresap ke dalam tiap cabang syarafku. Tapi aku harus menunaikan tugas terakhirku. Bagaimanapun caranya—
Dan dia muncul begitu saja. Bagai keluar dari Jubah—ah, ya. Tentu saja. Tentu saja ia keluar dari kerudungan Jubah Gaib. Ia mendekatiku. Merunduk, menunduk, memandangku—
Syaraf pita suaraku pasti juga sudah terkena efek bisa. Susah payah aku berusaha bicara, tapi gagal.
Ia membungkuk di atasku, berusaha mengerti apa yang akan aku bicarakan. Aku menyambar bagian depan jubahnya, menariknya mendekat.
Merlin, walau efek bisa ini semakin meluas, tapi jangan dulu mengimbas pada pikiranku! Aku perlu berpikir—aku tahu! Ia pernah melihat memoriku dalam Pensieve. Ia bisa menggunakan Pensieve! Baiklah, berikan saja memoriku, dan biarkan ia menafsirkannya sendiri.
Dengan sisa-sisa tenagaku, aku berusaha mengeluarkan memoriku, dari mulut, dari telinga, dari mata, tanpa tongkat.
"Ambil … ini … Ambil … ini …" aku berusaha berkomunikasi.
Seperti dugaanku, ia bengong sejenak.
Aku berani bertaruh dengan umurku yang tinggal sedikit ini, ia pasti bersama kedua pendukungnya—benar saja. Dari ketiadaan, muncul sebuah tabung. Disorongkan ke tangannya yang gemetar. Ia menerimanya, mengeluarkan tongkatnya, dan memasukkan memoriku ke dalam tabung itu.
Selesai.
Selesai sudah tugasku.
Cengkeramanku pada jubahnya mengendur.
Sekilas terpandang olehku kedua matanya. Matanya menatapku sejenak.
Mata—Lily!
Tenagaku sudah habis. Rasa panas itu sudah menjalar ke seluruh pembuluh darah. Rasa tak mampu bergerak itu sudah meliputi seluruh anggota badanku. Kaku. Rasanya bisa itu sudah melahap semua senti tubuhku.
Aku hanya bisa berbisik.
"Tatap … lah … aku …"
Untuk yang pertama kali, dan yang terakhir kali, mata hijau itu menurut.
Damai. Sejuk.
Tetapi serangan bisa itu sudah menjalar ke setiap sudut tubuhku. Aku tak bisa bergerak lagi.
Aku tak ingat kapan aku memejamkan mata, tapi semua gelap.
Gelap dan semakin gelap. Pekat.
.
.
.
.
Samar aku mendengar suara-suara. Lamat-lamat. Semakin lama semakin jelas. Suara perempuan. Suara laki-laki. Suara perempuan lagi.
Aku berusaha membuka mata. Samar-samar aku seperti melihat cahaya di ujung. Redup. Masih berusaha. Semakin jelas.
Aku mengejap-ngejapkan mata.
Poppy.
"Selamat datang kembali, Severus," sahutnya hangat. Ada nada lega yang berhasil kutangkap.
Hangat? Lega? Bukankah seharusnya aku dibenci? Bukankah seharusnya mereka lega kalau aku mati?
"Hati-hati," suara Poppy lagi, saat aku berusaha untuk duduk. Rasanya masih kaku, masih ngilu, masih sakit. Seperti ada yang meremukkan tubuhku, sebagaimana seseorang meremas telur rebus. "Berbaring sajalah. Kalau sudah kuat, baru duduk."
Aku menurut, berhenti berusaha duduk, dan melihat sekelilingku.
Rumah sakit. Di Hogwarts. Minerva, dia berusaha untuk tersenyum, tapi dia juga menghapus matanya. Potter, untuk apa dia ada di sini? Dan—Longbottom?
Sekilas aku teringat. "Panger—Pangeran Kegelapan?" bisikku.
Minerva memandang Potter, dan mengangguk. Potter yang berbicara.
"Ia sudah mati, Sir. Kita menang. Berkat bantuan Anda." Nadanya sopan.
Kita?
Dan sejak kapan Potter memanggilku 'Sir' begitu, dengan sikap hormat seperti itu?
Aku mengalihkan pandanganku pada Poppy, "Berapa lama—"
"Kau koma selama dua minggu, Severus," sahutnya, sambil mengulurkan sebuah piala berkepul.
Aku menerimanya, meminumnya tanpa banyak tanya, tanpa protes.
"OK," suara Poppy tegas, "biarkan Severus istirahat. Lain kali saja menengok lagi," katanya sambil mengusir mereka dengan halus.
Mereka keluar. Poppy keluar terakhir, tapi kutahan.
"Ceritakan," pintaku.
Poppy menghela napas. "Pendek saja ya? Panjangnya nanti kalau kau sudah pulih. Pokoknya Harry membawamu ke mari, dan aku masih bisa menemukan tanda-tanda kehidupan walau sedikit. Harry berkata kau digigit Nagini, dan aku segera menghubungi Penyembuh Smethwyck di St Mungo—dia yang dulu menangani gigitan Nagini pada Arthur. Gigitannya memang berbeda, Arthur digigit di pembuluh darah besar dan lurus, kau digigit di dekat pusat syaraf yang pembuluh darahnya kecil dan berliku. Karenanya—dibutuhkan waktu lebih lama untuk menyembuhkanmu."
Aku mengangguk.
Dan hari-hari selanjutnya mudah ditebak. Minerva datang dengan airmata, dan protes mengapa dia tidak diberitahu, dan permohonan maaf karena ia berbuat kasar malam itu di tengah baju-baju zirah. Potter juga, datang dengan permohonan maaf—kurasa tulus—dan mengembalikan tabung berisi memoriku. Kubilang agar ia menyimpannya saja, dan ia nampaknya senang.
Dan hari-hari berlanjut seperti biasa.
Minerva—berikut pendukung-pendukungnya—memohon padaku agar mau mengajar lagi. Mata pelajarannya terserah. Aku sudah tak ingin, tapi dengan permohonannya yang sedemikian, aku mengalah. Aku kembali pada mata pelajaran Ramuan.
Dan hari-hari berjalan seperti biasa.
Kegiatan mengajar seperti biasa. Hampir setahun pelajaran, dan dalam beberapa minggu lagi akan dilaksanakan OWL, NEWT, serta ujian kenaikan kelas seperti biasa.
Aku sudah berbicara dengan Potter, dan ia setuju untuk menutup rapat-rapat apa yang ia lihat dalam memoriku, kecuali yang diperlukan untuk kesaksian di Wizengamot. Yang berakhir dengan vonis tak bersalah untukku, bahkan menghasilkan penghargaan Orde of Merlin kelas satu. Yang rasanya—sudah tak begitu kuinginkan lagi.
Murid-murid sekarang—atau karena aku memandangnya dari sudut yang berbeda—rasanya lebih menurut. Walau lebih tak takut padaku lagi, tapi mereka terasa lebih hormat padaku. Tapi aku tidak begitu ingin berhubungan dengan banyak orang, walau aku sekarang tidak banyak memotong angka dari asrama manapun.
Jadi, malam ini berlalu dengan damai. Memeriksa tugas. Memeriksa kuis. Memeriksa esai. Menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk ujian nanti. Dan walau yang akan mengawasi OWL dan NEWT nanti adalah petugas khusus dari Kementrian bagian pendidikan, tetapi tetap saja aku harus menyiapkan beberapa pertanyaan sebagai acuan.
Aku menyimpan pena bulu-ku di tempatnya di ujung meja. Kubereskan kertas dan perkamen. Kubereskan buku-buku dan kusimpan kembali di rak.
Kulihat jam. Sudah hampir fajar.
Mungkin membaringkan diri sejenak akan lebih baik. Rasanya, akhir-akhir ini aku merasa tidak begitu sehat. Tidak ada gangguan kesehatan, tetapi tidak pernah merasa begitu fit seperti dahulu kala lagi.
Mungkin usiaku memang bertambah.
Mungkin aku akan mengunjungi Poppy dan minta sedikit Ramuan Tonik.
Aku berdiri dan tiba-tiba saja merasa sedikit pusing. Tidak, bukan sedikit, tetapi benar-benar pusing. Kupaksakan berjalan, langkahku oleng. Tanganku mencari pegangan. Dengan berpegang pada sandaran kursi, aku melangkah. Memindahkan pegangan pada rak buku di sisinya, aku meneruskan langkahku.
Tapi leher ini terasa panas.
Perlahan, rasa panas ini menjalar.
Aku tidak merasa makan sesuatu yang salah. Atau terpapar bahan Ramuan—sehari ini aku hanya berurusan dengan kertas dan perkamen.
Aku berusaha terus berjalan. Paling tidak, aku harus bisa sampai ke kantor Poppy. Sedikit Ramuan Tonik, atau Ramuan Penghilang Pusing, mungkin bisa menghilangkan gejala yang kualami. Memang, aku guru Ramuan, tapi untuk Ramuan-Ramuan yang berhubungan dengan kesehatan, sudah aku serahkan semua pada Poppy.
Satu-dua langkah seakan berabad. Dunia berputar. Dan, apakah ini benar fajar? Rasanya panas membakar. Panas mulai menjalar ke seluruh tubuh.
Rasanya hampir samna dengan waktu aku digigit Nagini tahun lalu.
Panas pada kepala. Pada tangan. Pada kaki.
Dan mati rasa itu terjajak lagi.
Dari ujung kaki. Dari ujung tangan. Dari seluruh tubuh, menuju seluruh tubuh.
Aku berhasil mencapai pintu. Kugerakkan pegangannya, berusaha membukanya.
Tapi aku limbung, dan tak ingat apa-apa lagi.
Gelap.
Pekat.
.
.
.
.
"—akhirnya Anda sadar, Sir!"
Aku berusaha untuk bangun, tapi tangan gemuk itu menahanku.
"Berbaring saja dulu, Sir."
Aku mengejapkan mata.
Aku berbaring di sofa, di kantorku. Diselimuti. Dan ada pemuda Longbottom itu duduk di kursi yang diletakkan tepat di sebelah sofa.
Ia menyorongkan segelas air. Kuterima, dan kuminum. Tenggorokan memang terasa kering setelah rasa panas tadi—sekarang tanggal berapa?
"Apakah aku pingsan? Berapa lama?" tanyaku.
Longbottom mengangguk. "Mungkin tidak begitu lama, Sir. Saya diminta Profesor Sprout mengantarkan daun-daun ini," ia menunjuk pada stoples-stoples yang sudah rapi, daun-daun yang dibawanya tadi tentu sudah dimasukkan, terorganisir menurut kategorinya, "dan saya menemukan Anda terjatuh di pintu."
Aku baru ingat kalau aku meminta Sprout mengirim beberapa bahan Ramuan. Dan rupanya ia mengirim pemuda Longbottom ini. Konon, Sprout sedang mendidik penggantinya, dan Longbottom merupakan pilihannya.
Aku berusaha melihat jam, tapi terhalang.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam sembilan, Sir."
Jadi, hanya sebentar. Hanya sekitar tiga-empat jam. Aku mengeluh. Apakah aku memang sudah sebegitu lemah, sehingga bisa ditemukan pingsan begini oleh murid?
Tapi Longbottom salah arti, mengira keluhan itu berarti lain.
"Apakah ada yang sakit, Sir?"
Aku menggeleng pelan, saat aku baru merasa bahwa seluruh badanku memang sakit. Pegal-pegal, nyeri.
"Maukah kau pergi pada Madam Pomfrey, dan katakan—"
"Tentu, Sir. Tadi juga ia sudah mengecek keadaan Anda. Akan saya laporkan padanya." Ia berdiri, tapi kemudian ia berbalik, "Anda tidak apa-apa kalau saya tinggal?"
Aku menggeleng.
Ia berjalan lagi, saat aku tiba-tiba teringat.
"Longbottom—"
Ia berhenti, dan menoleh lagi, "Sir?"
Aku menelan ludah. "Terimakasih—"
"Sama-sama, Sir."
Ia membuka pintu, keluar, dan menutup pintu.
Aku menghela napas.
Jaman dulu, siang hari aku mengajar, malam menghadiri pertemuan Pelahap Maut, kadang dengan siksaan Cruciatus, dan pagi sudah siap mengajar lagi. Dan tidak ada apa-apa dengan kesehatanku.
Sekarang, ada apa dengan diriku?
Sejak kejadian tahun lalu, Poppy berkeras agar aku beristirahat lebih banyak, makan lebih bergizi, tidak tidur larut malam—apalagi sampai pagi—dan secara teratur ia memeriksa keadaanku. Walau aku menolak, tapi kau tahu kan, bagaimana seorang wanita bisa lebih keras daripada seorang laki-laki.
Jadilah tahun ini aku lewatkan dengan lebih banyak tidur daripada tahun-tahun sebelumnya. Atau, kalaupun aku tidak bisa tidur, lebih banyak beristirahat. Dan karena aku tidak terbiasa dengan keadaan seperti itu, maka yang kulakukan sekarang adalah setengah berbaring di sofa, dekat perapian menyala—musim panas di Inggris, tetap saja dingin di malam harinya—dan membaca. Sambil menuliskan catatan-catatan di margin samping buku yang sedang kubaca—kebiasaan dari sejak masih sekolah.
Dan itu terjadi lagi.
Begitu aku akan berdiri, berniat akan pindah ke kamar tidur untuk tidur yang sebenarnya, bagian leherku yang pernah digigit Nagini terasa panas lagi.
Aku terduduk. Memegang leherku.
Rasa panas itu menjalar ke seluruh pembuluh darahku. Seluruh tubuhku.
Tidak.
Apakah setelah ini, mati rasa akan menyerangku lagi?
Ya, kakiku dari bawah sudah mulai mati rasa. Tidak. Tidak. Tidak.
Tak berniat mengambil resiko, selagi tanganku masih bisa bergerak, aku berusaha meraih Bubuk Floo di atas perapian. Dapat. Melemparkan sejumput bubuk hijau itu, walau seadanya, mungkin kebanyakan tidak sampai di nyala api. Meneriakkan 'Hospital Wing'. Meneriakkan nama 'Poppy' sekeras mungkin, sebelum akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi. Gelap.
.
.
.
.
… rasanya seperti kembali ke tahun lalu, tatkala aku bangun, dan mendapati aku terbaring di kamarku sendiri, ditunggui pemuda Longbottom itu lagi.
O ya. Ingatkan aku, dia sudah lulus, dan sudah diterima magang oleh Profesor Sprout. Tahun ajaran yang akan datang, dia yang akan memegang mata pelajaran Herbologi.
Tapi, atas nama semua pendiri Hogwarts, mengapa harus dia yang menungguiku? Mengapa bukan Poppy?
"Anda sudah sadar, Sir?"
Entah pertanyaan atau jelas aku tidak menjawab. Hanya menerima gelas dari tangannya, dan minum.
Sebelum aku mengeluarkan pertanyaan, dia sudah lebih dahulu bicara.
"Saya—saya mau minta maaf, Sir."
Aku memandangnya dengan alis terangkat.
Ia menghela napas.
"Kalau Anda ingat, Anda terjatuh dan pingsan tahun lalu, pada tanggal 2 Mei juga, Sir."
Lalu?
"Itu—itu tanggal Perang Besar. Sebenarnya—sebenarnya, saat Perang Besar itu, saya yang membunuh Nagini—"
Ya, Potter sudah memberitahuku. Lalu?
"Lalu—lalu, saat Harry memberitahu bahwa Anda sedang koma saat itu, saya ingat kalau saya telah mengambil bisa terakhir Nagini—"
Dan aku juga tahu kalau bisa seekor ular dapat menjadi penangkal gigitannya setelah diolah seperlunya. Jadi?
"Jadi, bersama dengan Penyembuh S-Smethwyck, ka-kami berusaha mengolah penangkalnya. Kami berusaha sedapat mungkin—"
Jadi, itulah sebabnya dia ada di Rumah Sakit saat aku terbangun dua tahun lalu?
"Lalu," aku berusaha menekan rasa penasaranku, "lalu mengapa kau harus minta maaf?"
Pemuda Longbottom itu menelan ludah. Menunduk. "M-Mung-Mungkin—pengetahuan kami yang terbatas, atau faktor apa, kami tidak tahu—saya merasa," ia mengangkat wajah, "ada yang salah dalam pengobatan ini. Saya sangat bersyukur Anda dapat sadar, tapi—"
Kali ini aku yang menghela napas. "Kau tidak ikut NEWT Ramuan tahun lalu?"
Ia menggeleng, matanya bertanya kenapa aku membelokkan pertanyaan?
"OWL Ramuan-mu?"
"Hanya A," bisiknya.
Aku menatapnya tajam-tajam, "Lalu mengapa kau yang merasa bersalah? Masih ada Madam Pomfrey, masih ada Hippocrates Smethwyck, yang pengetahuannya jauh di atasmu, untuk disalahkan, kalau memang Ramuan ini tak bekerja—"
"—karena saya tidak langsung menyerahkan bisa Nagini itu pada saat pertama," bisiknya. "Penyembuh Smethwyck waktu menyembuhkan Mr Weasley, mengerjakannya pada pembuluh darah besar dan lurus. Dan tidak mengarah pada organ berbahaya. Sedang saat berusaha menyembuhkan Anda—" ia menelan ludah, "—pembuluh darahnya yang dimasuki bisa kecil, berliku, dan langsung mengarah pada pusat syaraf, juga otak."
Ia mencuri lihat pada mataku, dan kulihat jelas kegugupannya. Tapi ia meneruskannya, "Karena itu—saya kira, saya duga, keterlambatan menyerahkan bisa itu—"
"—telah meninggalkan residu bisa di dalam pembuluh otakku?" aku menduga-duga.
Ia mengangguk. "Madam Pomfrey dan Penyembuh Smethwyck kemudian bekerja keras menyiapkan Ramuannya, dan akhirnya—akhirnya—"
"Tapi kau tetap curiga?"
"Ya," sahutnya pelan. "Saya—saya tidak sengaja membaca pada suatu jurnal di Perpustakaan. Residu racun tertentu, yang tidak dibersihkan dengan baik, sampai benar-benar hilang, akan—akan menimbulkan gejala yang sama setiap tahun. Pada waktu yang sama.1)"
Aku bisa menarik kesimpulan sekarang.
"Jadi," simpulku, "kau meminta Madam Pomfrey agar mengawasiku tiap awal Mei?"
Ia menggeleng. "Madam Pomfrey asalnya tidak tahu tentang masalah residu ini. Ia bahkan tidak menduga. Tapi kemarin saya meminta agar ia mengawasi Anda pada saat-saat ini, dan tadi subuh Anda mem-Floo-nya, dan—"
"Tapi kau sudah menduganya dari awal?"
Gugup ia mengangguk.
Aku tercekat.
Ada seseorang yang memperhatikan aku, yang memedulikan, yang hirau?
Dan orang itu bahkan selalu aku hina, selalu aku tindas, sedari awal ia masuk Hogwarts?
Aku menelan ludah.
"Sir?" nampaknya ia gamang dengan terdiamnya aku. "—saya, saya minta ma—"
"Kenapa kau harus minta maaf, Neville—"
Ia tercengang dengan panggilanku.
"—S-Sir?"
Aku menghela napas panjang. "Aku masih hidup saja aku sudah bersyukur. Kalau aku memang harus menderita lagi setiap awal Mei, biarkan saja," sahutku pelan. "Mungkin—memang aku harus menebus dosa-dosaku," bisikku.
Hening.
Beberapa lama kami tidak saling bicara.
Lalu, "Kurasa, saat sekolah dulu, kau paling takut padaku?"
Gugup ia mengangkat muka, dan mengangguk. "Y-Ya, Sir."
"Tapi tentu saja kau akan lebih takut berhadapan dengan Pangeran Kegelapan?"
Ia menggeleng. "Tidak, Sir."
Memandangnya keheranan, aku penasaran. "Yang benar?"
Sepertinya ia memberanikan diri. "Benar, Sir. Saya tidak takut pada Voldemort. Saya—saya lebih takut pada Anda—"
Aku menatapnya dalam-dalam. Lalu tersenyum, tulus. "Aku merasa mendapat kehormatan—"
Aku bisa melihatnya, ia juga tersenyum kecil. Tulus.
Kalau tahun ajaran depan ia benar-benar mengajar Herbology di sini, aku yang akan merasa mendapat kehormatan duduk bersamanya di Kursi Tinggi.
sumber: http://www.fanfiction.net/s/5457179/1/Residu Baca Selengkapnya...
Jumat, 25 Maret 2011
all the FUCKing thing you have to FUCKing know about FUCK!!!
ok...lets start fucking!
FUCK
Fuck is perhaps one of the most interesting and exciting words in the English language.
Fuck is the one magical word which just by its sound can describe pleasure, pain, hate, and love.
You may be asking yourself "Who the fuck invented fuck" ?
The word "fuck" was first commonly used by the ancient Kingdom.
Fuck stand for (Fornication Under Consent of the King),
And than the word Fuck was coined by Shakespeare in 1582 when he was writing the Comedy of Errors.
Upon finishing the play he realized that he had only included sex in the plot and no death.
Mr. Shakespeare exclaimed "Oh fuck! This is supposed to be a tragedy, but no one dies."
Realizing his genius in discovering a new word, Shakespeare revised the Comedy of Errors to say "fuck" in place of sex.
The word "Fuck" is used 1993 times in The Comedy of Errors. This is how "Fuck" came to be used in modern English.
Samuel L. Jackson in the movie, Pulp Fiction honed his talent for saying variations of the word "motherfuck" in popular culture and world cinema,
eventually garnering nominations on Oscars, Emmy Awards and the Adult Film Awards for his many great performances of him yelling and saying motherfuck!!!
In language, "fuck" falls into many grammatical categories.
* Fuck can be used as a verb both transitive (he fucked her) and intransitive (she was fucked by him).
* an active verb (he really gives a fuck),
* a passive verb (she really doesn't give a fuck),
* an adverb (she is fucking interested in him) and
* a noun (she is a fine fuck).
* an adjective (he is a fucking cunt)
* an interjection (FUCK!!!!!!)
The word "fuck" can also be used as an adjective, a noun, and a verb in the same sentence. For example, "Fuck that fucking fucker!"
As you can see...there is a whole lot of real versatility with "fuck". It pops up everywhere. Besides its sexual connotation, this lovely word can be used to describe many situations:
* GREETING - How the fuck are you?
* DISMAY - Oh, fuck it!;
* TROUBLE - I'm fucked now!;
* CONFUSION - What the fuck?!;
* ANNOYANCE - For fuck's sake!
* AGGRESSION - "Fuck you!";
* EXTREME AGGRESSION - "Fuck you motherfucking piece of fucking shit!"
* DEMAND - "Fuck me!!!"
* INCOMPETENCE - "He's a real fuck-off";
* DISPLEASURE - "What the fuck is going on here?"
* NUMEROLOGY - "Sixty-fuckin'-nine";
* LOST - "Where the fuck are we?"
* DISBELIEF - "Unfuckingbelievable"
* SATISFACTION - ""Oh, FUCK yeah!""
* ENDEARMENT - "I fucking love you."
Also as:
* DESCRIPTIVE ANATOMY - "He's a fuckin' asshole!"
* TO TELL TIME - "It's six-fucking-thirty."
* PREDICTION - "Well, I'll be fucked!"
* DIRECTION - "Fuck off."
* LAW - "Fuck the police"
* A POLITICAL STATEMENT - "Fuck Washington"
* INCESTUOUS - "Motherfucker"
* A PUT DOWN - "Fuck off, buster!"
* GOVERNMENTAL AFFAIRS - "Fuck the FBI"
* DISCRIMINATION - "Fucking niggers (chinks, jews, women, fags, wookies, etc.)"
* TO START A RELATIONSHIP - "Let's fuck now!"
* AS AN ACCEPTANCE - "Fuckin' eh!"
* POLITICAL - Fuck Bush!!(Formerly Known As "Buck Fush!!")
* INTELLIGENCE - "You stupid fuck"
* RELIGIOUS - "Holy fuck"
* PARACHUTE MALFUNCTION - "FUCK."
* BEING RAPED BY INVISIBLE MAN - "Oh my fucking God!"
* BEING RAPED BY INVISIBLE WOMAN - "Oh My Fucking GOD! YES!"
* Fuck can also be used As a substitute for song lyrics you can't remember: "Billie Fuck fuck not my lover, she's just a fuck who fuck that I fuck the fuck. But fuck in the fuck fuck fuck donkey."
Never forget the quotes of some famous people in our history and in the present:
* Einstein: "Any fucker can understand that"
* Mayor of Hiroshima: "What the fuck was that?"
* John Wayne: "Fuck death and the lung cancer he rode in on."
* Samuel L. Mothafuckin' Jackson: "...Mushroom Cloud Layin' Mothafucka, Mothafucka."
* Bill Clinton: "I did not have sexual relations with that woman... I just fucked her in the mouth!"
* Eddie Murphy: "Fuck you, Fuck you, and Fuck you. Who's next?"
* The guy in film...sense and sensibility: "Quite frankly my dear, I don't give a fuck!"
* Tupac: "Yo I fucked yo bitch you fat mothafucka!"
* Axl Rose: "Do you know where the fuck you are?"
* BLAH BLAH BLAH - "Fuck fuck fuckitty fuck fuck!"
And last but not least, the immortal words of the captain of the Titanic, who said "Full speed ahead and fuck the iceberg" and five minutes later said "Where is all this fucking water coming from?
Samuel L. Mothafuckin' Jackson
sumber: http://archive.kaskus.us/thread/3232028
Baca Selengkapnya...
Jumat, 04 Februari 2011
#antiklimaks
Perhatian! Cerita ini hanya untuk hiburan semata duamata. Jadi jangan berharap yang berlebihan dari tulisan kami yang pastinya acak-adut banget ini.
Selamat membaca :)
Dear diary,
Gua bingung, gua gak tau kenapa gua bingung -,-” Jadi endingnya gua bingung. Tapi gu pengen tau bingung gua karena apa ? hmm..
I feel nothing, haha.. Jadi buat apa ya gua nulis diary ini ? Tapi nothing itu yang bikin gua bingung. Kenapa jadi bingung lagi ya ? Galau mungkin, tapi sebenernya apa yang bikin gua galau ?
Ceritanya ada orang, namanya tuh.. hmm bilang gak ya ? emm.. sebut aja deh Ige (gausah ditanya kenapa gua panggil dia kayak gitu). Dia aneh! Semua maksud dia tuh gak pernah nyampe ke otak gua. Apalagi nyampe ke hati gua, gak bisa! (hahaha apasih) Dulu pernah sih nyampe, tapigak dalem-dalem banget. Gua takut kalo ke daleman, gua jadi lebay gara-gara dia (walaupun sekarang udah rada lebay) emm.. Gak apa-apa deh gua mau lebay dulu kali ini.
Paragraf baru. Ih sumpaaaaaah gua ini kenapa ya? Galau lagi mungkin. Intinya hati gua lagi nusuk-nusuk nih (suuk.. suuk..) Kayak ada banyak jarum pentul di hati gua. Tapi gua udah nyabutin jarum pentul itu kok sebagian. Sekarang gua mau balik lagi cerita masalah si Ige. Ya gitu gua sakit hati sama keanehannya, walaupun gua juga aneh. Tapi percaya deh dia lebih aneh dari gua. Percaya ya harus percaya. Mau tau kenapa dia aneh ? Soalnya menurut gua dia tuh pecundang, sepele sih gua nya aja yang lagi lebay, haha.. Kenapa gua bilang pecundang ? Soalnya, yaa dia pecundang :D Padahal gua gak tau pecundang itu apa. Tapi kata temen gua sih pecundang itu… (ih gua lupa temen gua bilang apa -___-). Bete deh, sudahlah lupakan lupakan.
*Galau part III. Kenapa coba bisa part III ? Ya baca aja dari awal. Jadi, apa yang bisa kalian ambil dari cerita gua ini ? Menurut gua sih, gak ada yang bisa kalian ambil. Soalnya, sebenernya isi dari cerita ini tuh omong kosong belaka. Si Ige yang diceritain tuh juga sebenernya gak ada, dan blablablablablabla… semuanya tuh gak ada. Jadi buat apa gua nulis ini? Sebenernya gua nulis ini cuma iseng aja ngisi kebetean gua sama temen gua di sela-sela guru B. Indonesia gua lagi cuap-cuap nerangin materi di depan kelas -,-
#Antiklimaks banget yah ceritanya. Ya kayak judulnya :D
TTD.
@meymoy & @tamiadistya
Baca Selengkapnya...
Kamis, 03 Februari 2011
Jenis-jenis Es Krim Magnum
2. Magnum Mint
Dingin!! kata yang tepat untuk menggambarkan magnum jenis ini. es krim vanilla mint dilapisi dengan coklat yang sama seperti yang ada di magnum classic. weeww! kayanya es krim yang bisa ngebuat hati kita makin adem nih.
3. Magnum Almond (ada di Indonesia)
Magnum jenis ini juga suka ada di alf*mart or ind*maret, dengan harga yang sama dengan magnum classic belgian chocolate.. potongan2 almond di bagian lapisan coklatnya terasa begitu khas! siapa yang mau???
4. Magnum Double Caramel
Rasa vanilla di es krim ini tetap sama seperti magnum yang lainnya. yang membedakannya hanya 1. lapisan coklat diluarnya. itu DOUBLE!, bagian dalam dilapisi coklat karamel yang menggiurkan dan bagian luarnya dilapisi lagi dengan coklat magnum yang ngebuat kita melting.
5. Magnum Classic (ada di Indonesia)
Nah, siapa coba yang ga tau magnum jenis ini? ini biasa dijual di ind*maret or alf*mart dengan harga Rp.10rb saja. es krim vanilla ini dilapisi dengan belgian chocolate yang ngebuat orang pasti pengen makan ini lagi dan lagi (seperti saya!)
6. Magnum Ecuador Dark
Magnum yang mempunyai ciri khas di bagian lapisan luarnya. yaitu terbuat dari kandungan kakao 62% yang membuat warnanya paling gelap diantara jenis magnum yang lain.
7. Magnum Temptation Almond and Caramel
kombinasi es krim vanili dengan potongan almond California serta saus karamel yang lembut lalu dilapisi coklat Belgian di sekitarnya.
8. Magnum Temptation Chocolate
Es krim coklat yang diperkaya dengan saus coklat mewah dan berlimpahnya potongan coklat putih juga potongan brownies dan tak lupa di bagian luar dikelilingi oleh lapisan coklat yang yummy.
9. Magnum White
Magnum yang 1 ini perfect banget bagi yang tidak suka sama coklat milk or dark. (tp sayang ga ada di Indonesia ). Es krim vanilla ini disiram begitu saja dengan coklat leleh warna putih. woow! siapa coba yang ga mau?
10. Magnum Mayan Mistica
Coklat Susu Bercampur rasa Pedas.
11. Magnum Mini's
Magnum yang berukuran setengah dari magnum biasa ini sangat menggoda dengan 3 rasa yang ditawarkan. Baca Selengkapnya...
Minggu, 30 Januari 2011
Layout Plurk Foto Sendiri
Sabtu, 29 Januari 2011
Minuman beralkohol
![]() |
| Sebotol cachaça, minuman beralkohol dari Brasil. |
Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol. Etanol adalah bahan psikoaktif dan konsumsinya menyebabkan penurunan kesadaran. Di berbagai negara, penjualan minuman beralkohol dibatasi ke sejumlah kalangan saja, umumnya orang-orang yang telah melewati batas usia tertentu.
Efek samping
Bila dikonsumsi berlebihan, minuman beralkohol dapat menimbulkan ganggguan mental organik (GMO), yaitu gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan, dan berprilaku. Timbulnya GMO itu disebabkan reaksi langsung alkohol pada sel-sel saraf pusat. Karena sifat adiktif alkohol itu, orang yang meminumnya lama-kelamaan tanpa sadar akan menambah takaran/dosis sampai pada dosis keracunan atau mabuk.
Mereka yang terkena GMO biasanya mengalami perubahan perilaku, seperti misalnya ingin berkelahi atau melakukan tindakan kekerasan lainnya, tidak mampu menilai realitas, terganggu fungsi sosialnya, dan terganggu pekerjaannya. Perubahan fisiologis juga terjadi, seperti cara berjalan yang tidak mantap, muka merah, atau mata juling. Perubahan psikologis yang dialami oleh konsumen misalnya mudah tersinggung, bicara ngawur, atau kehilangan konsentrasi.
Mereka yang sudah ketagihan biasanya mengalami suatu gejala yang disebut sindrom putus alkohol, yaitu rasa takut diberhentikan minum alkohol. Mereka akan sering gemetar dan jantung berdebar-debar, cemas, gelisah, murung, dan banyak berhalusinasi.
Perijinan Minuman Beralkohol
Di Indonesia, minuman beralkohol yang diimpor diawasi peredarannya oleh negara. Dalam hal ini diamanatkan kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Departemen Keuangan. Dalam istilah Kepabeanan dan Cukai; minuman beralkohol disebut sebagai MMEA (Minuman Mengandung Ethyl Alkohol). Impor/ pemasukan MMEA dari luar negeri dilakukan khusus oleh importir khusus. Di samping MMEA Impor, Bea Cukai juga memiliki kewenangan untuk mengontrol secara penuh pendirian pabrik MMEA dalam negeri. Setiap badan usaha yang hendak memproduksi MMEA, maka ia wajib memiliki NPPBKC (Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai).
Jenis minuman beralkohol
* Anggur
* Bir
* Bourbon
* Brendi
* Brugal
* Caipirinha
* Chianti
* Jägermeister
* Mirin
* Prosecco
* Rum
* Sake
* Sampanye
* Shōchū
* Tuak
* Vodka
* Wiski
sumber: Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Baca Selengkapnya...



